Para pengamat burung di Jakarta menyaksikan langsung bagaimana populasi burung kian terpinggirkan ketika urbanisasi melaju tanpa kendali. Perluasan kota bergerak hampir lima kali lebih cepat dibanding proses pemadatan wilayah, sehingga banyak habitat alami hilang. Di saat yang sama, tradisi lomba dan pemeliharaan burung kicau yang telah berlangsung berabad-abad menambah tekanan terhadap keanekaragaman hayati. Indonesia merupakan negara dengan jumlah spesies burung terancam punah terbanyak di dunia.
Agustus 2025, oleh Sebastian Castelier

Sebelum hiruk-pikuk Jakarta dimulai, salah satu taman terakhir yang tersisa di ibu kota menjadi tuan rumah pertemuan yang tak biasa. Pada Sabtu pagi, sekitar 30 orang, lengkap dengan teropong, mengamati burung-burung di Hutan Kota Kemayoran. “Saya menikmati fokus pada burung perkotaan. Mereka jauh lebih jarang dieksplorasi dibandingkan burung gunung atau hutan,” kata Muhammad Wildan Al Gifari, pengamat burung Indonesia.
Kelompok yang beragam ini mengikuti kegiatan bulanan rutin yang telah diselenggarakan secara konsisten selama dua dekade terakhir oleh komunitas pengamat burung lokal. Tujuannya adalah menarik perhatian pada populasi burung perkotaan. “Pengamatan burung mulai populer pada tahun 2010-an, berkat para fotografer, bukan ahli biologi. Mereka membagikan foto-foto mereka secara online. Dari sana, percakapan mulai terbentuk,” kata Ady Kristanto, yang mendirikan Jakarta Birdwatcher’s Society pada tahun 2005.

“Kami mengedukasi masyarakat bahwa burung adalah bagian dari kita, bahwa mereka juga warga Jakarta,” tambahnya. Selain berperan penting dalam mengendalikan populasi serangga dan menyebarkan biji tanaman, burung juga berkontribusi pada kesejahteraan manusia. Sejumlah studi ilmiahThe Lancet – Positive relationship between bird diversity and human mental health, 2024 menunjukkan adanya keterkaitan antara keanekaragaman burung di suatu wilayah dan kesehatan mental penduduknya.
Namun kemewahan alam ini perlahan menghilang dari Jakarta. Selama beberapa dekade, aktivitas manusia semakin menguasai hampir seluruh wilayah perkotaan tempat kota ini berdiri. Di kawasan metropolitan ini, lebih dari 35Urban area research firm Demographia – World Urban Areas, 20th Edition, 2025 juta orang berbagi ruang yang kian sempit. Pada 2023, setidaknya tercatat 75The Jakarta Post, 2025 juta perjalanan harian melintasi labirin bangunan dan jalanan yang padat, sebagian besar menggunakan kendaraan berbahan bakar fosil.
Meluas ke Wilayah Pinggiran Kota
Terlepas dari upaya Kristanto, para pengamat burung di Jakarta terus terdorong ke pinggiran kota yang kian menyusut akibat urbanisasi. Ahmad Yasin Chumaedi, seorang pengamat burung, berjalan dengan teropong di tangan menyusuri Taman Wisata Alam Angke. Kawasan konservasi mangrove seluas sekitar about 100 hektareBKSDA Jakarta ini merupakan salah satu sisa terakhir hutan mangrove luas yang pernah menutupi Jakarta Utara hingga 1990-an, sebelum proyek real estate berkembang pesat. “Masih ada burung di Jakarta. Tapi hanya di area-area kecil. Urbanisasi telah menghilangkan banyak habitat,” kata Chumaedi.
Data dari aplikasi ornitologi eBird menunjukkan bahwa hampir 90%eBird, 2025 pengamatan burung di Jakarta terjadi hanya di sepuluh ruang hijau. Keanekaragaman pun berada di bawah tekanan. Pada 2025, eBird mencatat 210 spesies burungeBird, 2025 di Jakarta. Angka ini hanya sedikit lebih rendah dibandingkan 230 spesiesArdea, Journal of the Dutch Ornithological Society – De avifauna van Batavia en omstreken, 1937 yang dicatat naturalis Belanda Andries Hoogerwerf pada 1937, meskipun ia sendiri mengakui bahwa daftar tersebut belum sepenuhnya lengkap. Al Gifari menilai sejumlah spesies burung telah “beradaptasi dan menemukan cara untuk hidup di lingkungan perkotaan ini.”

Namun angka itu menyembunyikan realitas biologis yang lebih kompleks. Sebuah studi yang diterbitkan pada 2020IOP Publishing – Synurbic avian species in Greater Jakarta Area, 2020 oleh peneliti Indonesia menunjukkan bahwa lebih dari tiga perempat spesies burung yang tercatat di wilayah perkotaan Jakarta justru memiliki kecenderungan “menghindari lingkungan perkotaan”. Hilangnya keanekaragaman burung berpotensi mengganggu jaringan ekologis yang lebih luas. Burung selama ini berfungsi sebagai penghubung biologis antara berbagai ekosistem alami.
Pada dua dekade pertama abad ke-21, Jakarta meluas secara horizontal. Pembangunan ke pinggiran kota berlangsung hampir lima kali ScienceDirect – Impact of Urban built-up volume on Urban environment, 2024 lebih cepat dibandingkan peningkatan kepadatan penduduk. Fenomena ini didorong oleh kecenderungan masyarakat memilih rumah tapak. Jalan raya yang dibangun dengan aspal berbasis bahan bakar fosil menjadi salah satu faktor utama yang memungkinkan konversi lahan basah dan pertanian menjadi kawasan perumahan.
Ekspansi ke pinggiran Jakarta mengulang pola era kolonial. Pada 1937, Hoogerwerf menulis bahwa otoritas Hindia Belanda telah “menginvasi sebagian besar” wilayah yang enam dekade sebelumnya masih berupa hutan, rawa, dan belantara, demi membuka budidaya ikan, buah-buahan, padi, dan karet.
Terancam oleh Masyarakat Konsumtif
Ketika pengembang properti mengincar ruang alami terakhir di wilayah perkotaan Jakarta, muncul pertanyaan apakah sebagian ruang hijau sengaja dipertahankan pemerintah daerah demi membentuk persepsi publik. “Taman-taman seperti ini adalah Disneyland,” kata Andrio Wibowo, pengamat burung. “Ia dibangun untuk menciptakan efek halusinasi, agar kita melupakan apa yang terjadi jauh di hutan Sumatra dan Kalimantan, tempat perkebunan kelapa sawit merajalela.”
Dalam upaya mengejar pertumbuhan ekonomi yang pesat, Indonesia melancarkan perang terhadap ekosistem tropisnya. Padahal, ekosistem ini merupakan rumah bagi lebih dari 540 spesies burungBurung Indonesia – The State of Indonesia’s Birds 2025 endemik yang tidak ditemukan di tempat lain di Bumi. Luas hutan primer Indonesia menyusut drastis, dari 145 juta hektareWRI Indonesia – The state of the forest pada 1950 menjadi hanya 46 juta hektarePNAS – Land in limbo: Nearly one third of Indonesia’s cleared old-growth forests left idle pada 2020, akibat diratakan oleh alat berat untuk pembukaan lahan oleh industri pertanian, agroforestri, dan pertambangan.
Di Jakarta, hutan mangrove yang tersisa juga terancam oleh sampah masyarakat konsumtif. Sampah ini terbawa aliran sungai. “Sungai-sungai mengumpulkan sampah sepanjang alirannya dan menumpuknya di hutan mangrove,” keluh Topik Hidayat, petugas mangrove di Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN). Organisasi non-pemerintah bidang lingkungan Indonesia ini menjalankan programYKAN, 2024 perbaikan aliran air di kawasan mangrove antara 2018 hingga 2023.
Namun upaya tersebut datang terlambat. “Dulu, burung pantai sangat banyak di Jakarta Utara, tetapi mangrove yang menjadi lokasi mencari makan burung migran ditebang untuk pembangunan rumah. Ketika habitatnya hilang, mereka pindah. Sekarang saya harus ke Tangerang untuk melihat mereka,” kata Iwan Febrianto, pengamat burung pantai selama dua dekade.

Pada 2024, konsentrasi partikel halus PM2.5 di Tangerang, Depok, dan Cikarang tercatat lebih dari sepuluh kali lipat IQAir, 2024 ambang batas yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia. Kota-kota penyangga ini mengelilingi Jakarta dan menciptakan kondisi udara yang berbahaya bagi kesehatan, kerap disebut sebagai lingkaran beracun di sekitar ibu kota. Kondisi ini mendorong sebagian pengamat burung menjauh, memindahkan aktivitas mereka ke lereng Gunung Gede dan Gunung Salak di selatan Jakarta. Namun bagi Andrio Wibowo, itu hanya ilusi. “Perjalanan ke pegunungan tidak bisa menggantikan apa yang hilang di sini. Burung gunung berbeda. Apa yang hilang di Jakarta akan hilang selamanya,” ujarnya.
Aviari, “Tren Tak Terhentikan”
Para pengamat burung juga menghadapi perubahan tipologi spesies di Jakarta. “Fenomena yang mencolok adalah banyaknya spesies burung pendatang setelah mereka lepas dari kandang para pemelihara burung,” kata Chumaedi dari area konservasi mangrove di Jakarta Utara.
“Beberapa pekan sebelumnya, kami menemukan burung daun endemik Sumatra di Jakarta! Tidak mungkin mereka tiba secara alami. Pasti dilepas dari kandang,” kata Achmad Ridha Junaid, petugas riset keanekaragaman hayati Burung Indonesia. Ia khawatir spesies pendatang dapat mengancam burung asli. Pada 2025, anggota eBird mencatat 18 spesies burungeBird, 2025 pelarian di Jakarta.

Memelihara burung kicau di Jawa, pulau tempat Jakarta berada, merupakan praktik budaya yang telah berlangsung selama berabad-abad. Tradisi ini, di antara unsur lainnya, turut membentuk status sosial laki-laki. Diperkirakan sekitar sepertiga Science Direct – Spatio-temporal dynamics of consumer demand driving the Asian Songbird Crisis, 2019 rumah tangga di Indonesia memelihara burung dalam sangkar. Di antara mereka termasuk mantan Presiden Joko Widodo, yang pada 2018 turut serta dalam salah satu dari lebih dari 1.000The New York Times, 2020 lomba burung kicau yang digelar setiap tahun di Indonesia. Ia menyebutCabinet Secretariat of the Republic of Indonesia (Setkab), 2018 ajang tersebut sebagai kegiatan budaya yang “positif”.
“Hari ini ada sekitar 1.200 burung yang ikut serta!” seru Dens Zaelani, salah satu penyelenggara Piala Wali Kota Bogor 2025. Kompetisi burung kicau ini digelar di Bogor, kota yang terletak sekitar 50 kilometer di selatan Jakarta, dan mendapat dukungan dari pemerintah kota.“Setengah dari burung ini lahir di penangkaran, sisanya ditangkap dari alam liar. Spesiesnya berasal dari berbagai pulau, mulai dari Jawa, Sumatra, Sulawesi, hingga Kalimantan,” kata Zaelani. Di sekeliling arena, para peserta bersiul dan memberi isyarat tangan untuk “menyemangati” burung mereka. Hadiah yang diperebutkan mencapai 15 juta rupiah.
Tren terbaru di kalangan penghobi burung sangkar adalah pembangunan aviari dan pemeliharaan koloni burung dalam jumlah besar. Fenomena ini disebut Nanang Kartiwa sebagai tren yang “tak terhentikan”. Kartiwa adalah pendiri Kicau Plus, kanal YouTube tentang pemeliharaan burung yang diluncurkan pada 2017. “Orang-orang berbondong-bondong melakukannya karena takut ketinggalan. Saya sendiri berada dalam dilema untuk membuat konten aviari, karena tren ini memperluas penangkapan ke lebih banyak spesies dibandingkan burung kicau tradisional, dan dalam jumlah yang jauh lebih besar,” ujarnya. Meskipun angka pasti tidak tersedia, namun diperkirakan lebih dari 20 jutaThe New York Times, 2020 burung ditangkap setiap tahun di Indonesia.
Kegemaran memelihara burung mencapai puncaknya dalam beberapa tahun terakhir, didorong oleh transaksi bernilai fantastis. Pada 2021, seekor murai batu berekor putih yang dijuluki Murai Batu Superman terjual dengan harga satu miliar rupiahRojobrono Channel – Man Behind Sucessfully Bird Murai Superman Sold Out 1 Billion IDR, 2021. Nilai ini setara hampir tiga dekade BPS – Average of Net Wage/Salary, 2025 upah rata-rata seorang pekerja Indonesia.

Pada Juli 2018, pemerintah berupaya memperluas daftar spesies burung yang dilindungi, yang sebelumnya ditetapkan pada 1999, dengan menambahkan 125 spesiesBurung Indonesia – The Influence of Updated List of Protected Species on Bird Conservation, 2018baru. Kebijakan ini memicu demonstrasi nasional. Dua bulan kemudian, pemerintah mencabutBNR Media, 2025 keputusan tersebut. Penolakan terutama dipicu oleh fakta bahwa burung yang dilindungi tidak boleh ditangkap, dimiliki, maupun diperdagangkan berdasarkan hukum IndonesiaTRAFFIC Bulletin – birD singing competitions fly online to avoiD Covid-19, 2020.
Menghadapi industri burung sangkar yang menguntungkan, para pecinta alam bertaruh pada perubahan minat publik. “Kami mendorong pengembangan kegiatan pengamatan burung untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari burung sangkar ke burung liar,” kata Ivanna Febrissa, petugas keterlibatan konservasi di Burung Indonesia. Sebagian lain menilai perubahan hanya mungkin terjadi jika manfaat ekonomi konservasi dipahami. “Burung, seperti hewan lainnya, memiliki nilai melalui fungsi ekologisnya. Jika masyarakat memahami nilai ekonomi ini, mereka akan berpikir ulang,” ujar Kristanto dari Jakarta Birdwatcher’s Society.
“Ketika Burung Menghilang, Negara Dalam Masalah”
Buku pelajaran di Indonesia memang menyebut keanekaragamanSoutheast Asian Regional Centre for Tropical Biology – Final report, 2023 hayati, akan tetapi “Pembahasannya dinilai dangkal. Misalnya, bagaimana hilangnya burung pemakan serangga berdampak pada pertanian, hingga memicu peningkatan penggunaan pestisida,” kata Ragil Satriyo Gumilang, petugas senior bidang keanekaragaman hayati dan kebijakan di Wetlands International Indonesia. “Saya tidak tahu apa-apa soal lingkungan. Di sekolah tidak pernah diajarkan,” kata Hammas Zia Urrohman Anshari, mantan pemburu burung. Selama sekitar lima tahun, Anshari menangkap ratusan burung liar, termasuk burung hantu lumbung yang berciri wajah berbentuk hati. “Saya seperti pedagang burung di daerah saya,” ujarnya.
Anshari juga merupakan salah satu pendiri Komunitas Pelicat Burung SidoarjoKomunitas Pelicat Burung Sidoarjo, grup Facebook tertutup dengan sekitar 25.000 anggota yang beranggotakan para pemburu burung. Ia pertama kali mengenal praktik pengamatan burung di alam liar saat kuliah. Ketika diajak bergabung oleh klub ornitologi kampus, reaksinya penuh curiga. “Apa yang mereka lakukan? Aneh sekali. Kalau mau melihat burung, kenapa tidak ditangkap saja?” katanya. Seiring waktu, pandangannya berubah. Ia mengganti perangkap dengan teropong.

Namun tanpa fokus lingkungan dalam kurikulum pendidikan nasional, perdagangan burung terus menggerus populasi di habitat aslinya. Di saat yang sama, burung-burung yang lolos dari kandang di Jakarta mengancam fauna endemik setempat. “Saat itu, di desa saya tidak terdengar lagi kicauan burung, benar-benar sunyi, saya dan teman-teman saya menangkap semuanya. Saya kaget, dan saya merasa bersalah. Saat ini, ketika saya pulang, saya membeli burung dan melepaskannya. Itu bukan hal besar, hanya sedikit tindakan untuk menebus dampak lingkungan yang telah saya sebabkan,” kenang Anshari, setelah memimpin hari kesadaran bagi anak-anak di Dadap, sebuah permukiman kumuh di barat laut Jakarta, bersama pengamat burung lainnya.
Penyesalan Anshari tak sebanding dengan skala kerusakan akibat aktivitas industri terhadap ekosistem Indonesia. Negara ini tercatat sebagai rumah bagi jumlah spesies burung terancam punah terbanyak di duniaBirdLife – Threatened birds occur around the world, with some countries being particularly important, 2023. “Ketika burung menghilang, negara berada dalam masalah, kiamat sudah di depan mata,” kata Wibowo. Ia menambahkan, “Yang terpinggirkan bukan hanya pengamat burung, tetapi juga hak kolektif kita atas kesehatan dan lingkungan hidup.”